Tasawuf adalah ilmu untuk
mengetahui bagaimana cara
menyucikan jiwa, menjernihkan akhlaq, membangun dhahir
dan batin,
untuk memperoleh kebahagiaan
yang
abadi. Dari definisi tentang tasawuf di atas diperhatikan dan dipahami
secara utuh, maka
akan tampak
selain berorientasi spiritual,
tasawuf juga
berorientasi
moral. Dan
dapat disimpulkan
bahwa basis
tasawuf ialah
penyucian hati
dan
penjagaannya
dari setiap cedera, dan
bahwa produk
akhirnya ialah
hubungan yang benar
dan harmonis
antara manusia dan Allah.
Dengan demikian, sufi adalah
orang yang telah
dimampukan Allah untuk menyucikan hati dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan
yang
benar,
sebagaimana
dicontohkan dengan sebaik-baiknya
oleh Nabi
Muhammad saw.
Dasar-dasar Tasawwuf
Ayat yang berkenaan dengan urgensi kezuhudan dalam kehidu- pan dunia
(QS. Asy Syuraa [42]:20) dan
ayat-ayat
yang
mememerintahkan
orang-orang beriman
agar senantiasa
berbekal untuk akhirat
“ barang
siapa
yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keun- tungan
itu baginya
dan barang siapa
yang menghendaki
Keuntungan di
dunia Kami berikan
kepadanya
sebagian dari
Keuntungan dunia
dan tidak
ada baginya
suatu ba- hagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa [42]: 20)
Pembagian Ilmu Tasawuf
1.
Tasawuf
Akhlaki
Tasawuf akhlaki adalah tasawuf yang sangat menekankan nilai-nilai etis (moral) atau taswuf yang berkonsentrasi pada
perbaikan akhlak. Ajaran tasawuf akhlaki
membahas tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa yang di
formulasikan
pada
pengaturan
sikap mental dan
pendisiplinan tingkah laku yang ketat,
guna mencapai kebahagiaan yang optimal. Dengan metode-metode tertentu yang telah
dirumuskan,tasawuf
bentuk ini berkonsentrasi pada
upaya-upaya
menghindarkan diri
dari akhlak yang tercela
(Maz- mumah) sekaligus mewujudkan akhlak yang terpuji (Mahmudah) didalam diri para sufi.
2.
Tasawuf Amali
Tasawuf amali adalah tasawuf
yang
lebih mengutamakan kebiasaan beribadah,
tujuannya agar diperoleh
penghayatan
spiritual dalam setiap melakukan ibadah.
Keseluruhan rangkaian amalan
lahiriah dan latihan olah batiniah dalam usaha
un- tuk mendekatkan diri
kepada
Allah, yaitu dengan
melakukan macam-macam
ama- lan yang terbaik serta
cara-cara
beramal yang paling
sempurna. Tasawuf
Amali berkonotasi dengan
tarekat.
3. Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi yaitu
tasawuf yang menekankan
pada masalah-masalah
pemikiran mendalam/metafisik. Dalam upaya
mengungkapkan penglaman
rohaninya, para para sufi falsafi sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang samar-samar yang dikenal dengan syathahat
yaitu suatu ungkapan yang sulit
di pahami,
yang
sering mengakibatkan kesalahpahaman.
Sumber-sumber Tasawwuf
1. Allah
Allah merupakan
Zat sumber
ilmu tasawuf,
tidak ada seorangpun
yang
mampu menciptakan ilmu tasawuf dari selain Zat Allah.
2.
Rasulullah SAW
Rasul merupakan
sumber kedua setelah Allah bagi para suϐi dalam mendalami
dan pengambangkan ilmunya, karena
hanya kepada Rasul sajalah Allah menitipkan wahyu-Nya, tentulah
Rasul pula yang lebih banyak tahu tentang
sesuatu yang tersirat
di balik yang tersurat dalam Al-Qur'an. Semua keterangan tersebut hanya ada di hadis
Rasulullah, maka sumber yang kedua ilmu tasawuf adalah Hadis (Sunnah
Rasul).
3.
Pengalaman Sahabat
Setelah merujuk pada
referensi
Al-Qur'an dan Hadis, referensi
selanjutnya bagi aktivitas
tasawuf adalah pengetahuan dan tindakan para pengikut setia
Rasu- lullah Muhammad saw. Pengalaman
spiritual yang diperolehnya sebagai penunjang
semuanya itu.
4.
Ijma’ Sufi
Ijma’ Sufi (kesepakatan para ‘ulama tasawuf ) merupakan esensi yang sangat penting dalam
ilmu tasawuf,
karenanya
mereka
dijadikan sebagai sumber
yang
ke tiga dalam ilmu tasawuf setelah Al-Qur'an
dan Hadis.
5.
Ijtihad Sufi
Dalam kesendiriannya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh, pengala- man itu
merupakan guru terbaik, namun Allah memberi akal untuk berfikir semak- simal
mungkin sebagai alat
pembeda antara kepositifan dengan kenegatifan
dalam pengalaman.
6.
Qiyas Sufi
Qiyas merupakan
penghantar sufi untuk
dapat berijtihad secara mandiri jika se- dang terpisah dari jama’ahnya.
7.
Nurani Sufi
Setiap sufi positif, memiliki nurani yang tajam di hatinya, ada yang menyebutnya
dengan
istilah firasat, rasa, radar
batin dan sebagainya merupakan anugerah
Allah terhadap kaum sufi, bias
dari keikhlashan, kesabaran
dan ketawakkalannya
dalam beribadah kepada Allah tanpa kenal lelah.
8.
Amalan Sufi
Kaum sufi memegang teguh
tradisi rahasia (menyembunyikan)
nurani
dan amalinya, karena jika dua
hal tersebut
diketahui umum
dapat menimbulkan kesalah fahaman,
hal ini
disebabkan dimensi tariqat
(perjalanan) sufi merupakan dimensi
batin (roh, rohani,
jiwa, sesuatu
esensi tersembunyi, gaib)
yang tidak
semua orang mampu
menjalaninya, namun para sufi amat merindukannya disebabkan semata karena cinta kepadaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar